Gain Library

Catatan Juang

Awal cerita berawal dari seorang gadis yang bernama Suar yang menemukan sebuah buku bersampul merah di angkutan umum. Suar adalah seoarang gadis yang sedang muak dengan rutinitasnya sebagai pegawai kantoran. Wajar saja, karena pegawai kantoran bukanlah cita-citanya. Alasan perekonomian keluarga lah yang membuat Suar beralih jalur yang tadinya bercita-cita menjadi Cinemas menjadi seoarang penjual jasa asuransi. Dihalaman pertama buku tersebut tertulis “Seseorang yang akan menemani langkahmu dengan satu kebaikan kecil setiap harinya”. Suar yang penasaran tentang pemilik buku tersebut kemudian mencari tahu dengan membuka halaman-halaman buku tersebut. Bukannya identitas pemilik buku yang ia temukan, ia mendapati tulisan-tulisan yang membuat ia tertohok karena seakan-akan kalimat-kalimat di buku tersebut menyindir dirinya yang menjadi seorang pengecut untuk merelakan impiannya hilang dan hanya menjadi pesuruh di kantoran. Suar makin penasaran, alih-alih mencari tahu pemilik buku, ia malah ketagihan membaca kalimat-kalimat di buku tersebut. Selain memiliki konflik batin dengan pekerjaan yang sedang ia jalani, Suar juga memiliki kisah asamara yang tak kalah rumit. Kekasihnya yang lebih memilih kembali dengan mantannya dan meninggalkan suar yang dalam keadaan terpuruk adalah juga rekan satu kantor. Hal ini pula yang membuatnya semakin tidak betah di kantor. Kinerja suar yang tadinya di eluh-eluhkan sebagai pegawai teladan terjun bebas. Bos yang tadinya selalu memujinya sebagai aset berharga perusahaan, seketika berubah menjandi monster yang setiap hari memaki-makinya. Ditengah kegundahannya, Suar semakin penasaran dengan kalimat-kalimat yang ada di buku bersampul merah milik juang yang dalam buku tersebut menyebut dirinya Laki-laki Jingga.Buku tersebut seakan menjadi obat yang paling manjur di tengah kegundahan hatinya. Suar yang tadinya merasa tidak sopan untuk membuka buku harian milik orang lain tersebut malah semakin tidak bisa berhenti membaca kata demi kata dari tulisan tangan Juang yang rapi. Semakin jauh membaca buku bersampul merah, perasaan ingin melepaskan diri dari penjara pekerjaannya semakin menjadi.Satu-satunya alasan yang masih mehalanginya adalah keluarganya. Suar khawatir jika ia keluar dari pekerjaanya, ia tidak bisa membantu ekonomi keluarganya. semantara ayahnya yang sudah tidak bisa bekerja lagi karena terkena stroke ringan.Setelah meng khatamkan beberapa halaman, Suar merasa sudah saatnya ia memantapkan niatnya untuk keluar dari neraka pekerjaan. Dan benar saja, hari itu adalah hari senin yang konon adalah siksaan bagi manusia yang hidup di kota-kota besar menjadi hari siksaan terakhir bagi suar yang belakangan menyadari bahwa bukanlah hari seninnya yang salah, melainkan rutinitas yang dijalani.Hari itu, Suar menemui Bos nya dan mengutarakan bahwa dia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Bukan hanya Bos nya yang terkejut, sang mantan yang sekarang sudah merasa tidak nyaman lagi dengan kekasihnya tersebut sempat membujuk suar agar tidak keluar dari pekerjaannya. Tetapi rupanya tulisan tangan Juang lebih kuat dari bujukan sang mantan dan rekan-rekan kerjanya. Setelah behasil keluar dari pekerjaannya, Suar pulang ke kampung halaman. Menemui orang tuanya sekaligus meminta restu untuk megejar cita-citanya. Keadaan sang ayah yang sudah semakin membaik, ditambah dengan adiknya juga sudah memiliki pengahsilan dari usaha Clothing-an miliknya, membuat suar semakin yakin buku bersampul merah telah mengantarkannya pada pilihan yang tepat.Suar menyampaikan kepada keluarganya bahwa ia telah keluar dari pekerjaannya dan bermaksut untuk mengejar impiannya. Meskipun sang Ibu sempat tidak yakin, namun akhirnya memberi restu dan mendukung keputusan Suar setelah mendengar pendapat dari Ayah dan Adik laki-lakinya yang sangat mendukung. Ayah suar memang selalu membiarkan Suar dan Adiknya menentukan pilihan hidupnya masing-masing. Suar bekerja sebagai pegawai kantoran bukanlah keinginan dari ayahnya, melainkan keputusannya sendiri dengan harapan dapat mengirimi keluarganya setiap bulan. Selama berlibur di kampung halaman, suar mendapat informasi bahwa di desanya sedang terjadi konflik atas berdirinya pabrik semen. Banyak warga yang menolak Pabrik tersebut, karena dinilai akan merusak lingkungan. Suar semakin terkejut setelah mengetahui bahwa warga telah berhasil memenangkan sengketa tersebut di meja hijau. Namun, pemerintah tetap saja mendirikan pabrik tersebut, seakan keputusan pengadilan yang telah mati-matikan diperjuangkan warga tidak ada sia-sia. Suar yang juga melek politik tentu saja merasa ada hal yang salah di sana. Suar kemudian memiliki ide untuk mengungkap permasalahan di desanya ke publik melalui film dokumenter. Setelah mengumpulkan cukup informasi, suar kembali ke kota. Ia menghubungi beberapa sahabatnya dan mengajak mereka untuk terlibat dalam proyek ini. Setelah berkumpul dan berdiskusi cukup, mereka sepakat untuk menggarap proyek tersebut. Tanpa menunda waktu, Suar dan teman-temannya melesat ke desanya untuk mengali informasi dari nasumber-narasumber yang sebelumnya sudah dihubngi Suar sekaigus melakukan sesi syuting.Setalah data dan video dirasa cukup, mereka bertolak ke kota selatan. Di kota mereka mengolah data-data tersebut sekaligus mewawancarai pihak yang dinilai perlu dimintai keterangannya.Meraka kemudian mewawancarai seseorang narasumber dari organisasi lingkungan hidup yang kemudian diketahui bernama Dude Ginting. Dude Ginting adalah seorang aktivis lingkungan, di sela-sela keseriannya mengelola kedai kopi miliknya. Perantau asal Sumatra Utara ini aktif mengikuti kegiatan di organisasi peduli lingkungan. Naik turun gunung untuk menanam pohon.Kecintaannya pada alam memang tekah membawa pemuda berperawakan tinggi besar ini pada petualangan di alam bebas. Suar dan rekan-rekannya dengan semangat membara terus menggarap proyek film mereka, dan bahkan mereka bermaksut untuk mengikuti perlombaan film pendek. Dengan bekal yang dimiliki suar dan timnya, mereka sangat yakin bisa mendapat gelar di ajang perfilman tersebut.Sampai akhirnya suar sempat merasa kecewa berat lantaran filmnya tidak mendapat gelar di ajang tersebut. Disaat kegundahaan hati suar yang kecewa lanataran film garapannya tidak mendapat gelar, laki-laki yang sempat ia wawancarai saat pembuatan filmnya itu datang dan mengajaknya untuk terlibat dalam kegiatan penelitian flora dan fauna yang sedang ia garap. Suar pun menyanggupi, mereka juga mengajak salah satu teman suar yang menjadi koleganya saat pembuatan film dokumenter.Dalam kegiatan tersebut, suar bertemu dengan banyak orang baru,Rekan Dude dan salah satunya adalah juga cenimas yang sudah cukup berpengalaman. Dude dan teman-temannya juga lah yang menyarankan suar untuk mepublish film mereka di media sosial.Kegiatan penelitian yang mereka lakukan di sebuah cagar alam Hutan Someah berjalan lancar, selancar asmara Suar dan Dude yang diketahui saling jatuh hati di Hutan Someah. Sepulang penelitian di Hutan Someah suar dan timnya memutuskan untuk mepublish film mereka di media sosial dengan harapan masyarakat luas akan tahu bagaimana permasalahan di Desa Utara. Benar saja, rencana mereka berhasil. Film mereka menjadi perbincangan hangat, pro dan kontar pun timbul. Suar dan teman-temannya yang terlibat dalam proyek tersebut mendadak terkenal. Dan yang paling penting adalah pabrik semen di Desa Utara di tutup lantaran pemerintah malu kedoknya terbongkar dan diketahui masyarakat luas.Mungkin inilah hikmah dari tidak menangnya mereka di ajang perfilman itu. Suar menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas suksesnya film dokumenter garapannya dengan teman-temannya tersebut. Impiannya menjadi cinemas perlahan mulai menemi ttitk terang, bahkan sudah ada produser film yang menwarakannya project film.Namun karena terkait kepentingan dalam project film yang ditawarkan, Suar menolak. Lalu apak kabar dengan Dude Ginting? Pengusaha kedai kopi tersebut rupanya benar-benar membuat Suar jatuh hati. Mereka sudah sepakat mengakui bahwa mereka saling jatuh hati.Buku bersampul merah? Memang setelah film perdannya yang sukses dan tengah menggarap film keduanya, Suar sudah agak jarang membaca buku bersampul merah. Tetapi jika ada waktu senggang sedikit, Suar terus membaca buku tersebut. Selain memang terus dikejar rasa penasaran dengan sang pemilik buku tersebut, Suar merasa buku tersebutlah yang mengantarkannya menuju impiannya dan ia ingin terus membaca sampai halaman terakhir. Suksesnya film dokumentar miliknya dan asmara dengan Dude bukanlah akhir dari kisah perjalanan Suar.Film keduanya yang sukses menembus layar lebar hingga Ayah nya yang dipanggil sang maha kuasa menjadi bagian kisah suar dalam buku ini. Dan suatu ketika Dude sang kekasih terkejut melihat buku bersampul merah yang terus Suar bawa. Dude sangat familiar dengan Buku milik sahabatnya tersebut.Suar yang sudah lama pensaran dengan pemilik buku tersebut meminta Dude untuk mempertemukannya dengan sang pemilik buku. Dan sampai akhirnya, Dude mengajak Suar ke sebuah pemakaman. Suar yang sempat kebingungan langsung meneteskan air mata setalah dude mengajaknya duduk di samping makam dengan nisan yang bertuliskan Juang Astrajingga. Dude menceritakan bahwa Juang adalah sahabatnya yang meninggal dunia setelah terkena awan panas saat menjadi relawan di gunung sinabung.Sekarang Suar paham tentang segala sesuatu yang selama ini menjadi pertanyaan di kepalanya tentang laki-laki Jingga dalam buku bersampul merah.Setelah menghabiskan halaman terakhir buku tersebut, Suar mengembalikannya kepada Fatah yang tidak lain adalah adiknya Juang. Fatah juga menceriatkan bahwa Juang meninggalkan istri “Ana Tidae” dan anaknya “Ilya Astrajingga”.



ADDING BY

Adi Bojes

"Berjuang untuk mencapai hal yang kita inginkan"